"pada sebagian orang-orang yg masih bernyawa, kenapa terasa tak hidup?"
ditulis berkenaan dengan wabah corona sekarang ini, -Kamis, 21 Mei 2020 pukul 8.14 pm.
penting diingat, tulisan ini bukan berarti aku benar dan yg lain salah. melainkan, aku hanya sebutir pasir diantara ribuan pasir lainnya. tertimbun di bawah. bukan klise, tapi benar begitulah adanya.
aku juga bukan orang yg berjuang di atas pandemik sekarang ini.
aku bukan orang yg bisa banyak membantu.
bukan orang yg memberikan manfaat, selain hanya bisa menyuarakan.
aku hanya anak kecil, yg kadang mengoceh dan kadang takbisa memberikan perubahan apa-apa.
bukan kadang, tapi memang tak memberikan perubahan apa-apa.
aku sadar betul dan kadang malu kala sedang bersuara.
iya bersuara, di sosial media yg ku miliki tepatnya.
bagaimana tidak, kadangkala aku sendiri bertanya pada masing-masing orang yg bernyawa. ketika kita melihat sesuatu yg salah di lingkungan sekitar kita, dan kita hanya diam saja melihat sesuatu yg salah itu, maka tak lantas kah kita bisa disebut sebagai pribadi yg acuh saja bahkan dengan keadaan sekitar kita?
jika jawabannya iya benar acuh, maka bukankah tak apa ketika diri ini memilih untuk membuang rasa acuh itu?
tak apa jawabnya. maka lewat tulisan ini, hanya lewat tulisan-tulisan ini saja lah rasanya aku berani untuk menyuarakan apa yg seharusnya disuarakan di diri ku ini. sekali lagi, jangan berprasangka buruk yaa. tulisan ini ku tulis semata-mata hanya melihat dengan keadaan yg ada. bukan di ada-ada, tapi benar adanya. ditulis juga, dengan harapan rasa sadar diri kita bisa terangkat.
seperti kalimat yg tak asing lagi ; kalau kita gabisa bermanfaat untuk orang lain, setidaknya jangan jadi beban..
yaa, beberapa hari, beberapa kali, dan atas beberapa kejadian. tak indahnya didapati rasa ketidakpedulian antar sesama. tentunya, pada pandemik kali ini.
saat kita berpikir terus-terusan tak juga berani menyuarakan sedikit isi hati kita, dan lebih memilih mengikuti alurnya saja, rasa-rasanya sikap empati kita pada negeri tercinta Indonesia ini tak begitu terpancar..
sikap peduli kita bahkan pada petugas medis yg rela hati berjuang di garis terdepan untuk menyelamatkan kita semua, rasanya juga terabaikan. sudah banyak pahlawan kita jatuh berguguran, dan kita jatuhkan lagi mereka dengan ego diri kita yg teramat besar.
hingga tak sadar, bahwa musuh terbesar untuk sembuhnya dunia ini adalah diri kita sendiri. tak sadar bahwa kita lah satu-satunya harapan yg bisa membangkitkan harapan orang-orang lain di sana,
ya, sebut saja aku terlalu berlebihan menanggapi ini semua. lalu, kalau ku sebut kamu sudah hilang perasaan untuk peduli perihal perjuangan yg tak juga disebut perjuangan, bukankah tak apa-apa juga?
banyak dari kita, tak terkecuali aku sendiri, menjadi korban atas ke-egoisan manusia-manusia yg tak juga melihat pahlawan terdepan kita sedang jatuh bangun berjuang melawan kematian.
terlebih, aku heran, kepada manusia-manusia yg menganggap ini hal sepele, bahkan tak jarang menjadikannya bahan candaan. damn, what happened with you guys?
okay, i know.. itu hak setiap manusia, untuk peduli atau tidak. kita gabisa memaksa semua orang untuk peduli akan keadaan bersama yg sedang diperjuangkan, yg bisa dilakukan saat ini adalah menyadarkan. meski taksemua yg menyadarkan direspon dengan baik. taksemua yg menyadarkan dianggap peduli yg baik, selain kepada yg hanya memberi kontribusi nyata lah yg dianggap membantu.
padahal jauh lebih dalam daripada itu, menyuarakan tidak kah lebih baik ketimbang diam saja dan meski taksemua diam berarti benar diam. juga, sebaliknya. tidak kah lebih baik diam saja ketimbang menyuarakan?
pilihan yg ada, banyak sekali. pun begitu, maksud setiap orang juga banyak maknanya. maka, ketika kita melihat orang yg menyuarakan atau bahkan melihat orang yg hanya diam saja. jangan sampai kita seenaknya beranggapan yg tidak-tidak. kita gapernah tau, bisa saja yg diam lebih banyak doanya untuk negeri ini. pun juga, bisa saja yg menyuarakan tak cukup hanya sebuah pencitraan. begitu sebaliknya.
gapernah ada yg benar-benar tau maksud hati seseorang. maka akan lebih baik ketika kita bisa berprasangka baik kepada orang, entah ia memberikan hal besar atau kecil. dan,
"kalau tidak bisa memberikan manfaat, setidaknya jangan jadi beban untuk orang lain."
menghargai masing-masing diri yg bernyawa jauh lebih penting, dibanding terus menjadikan ego diri sendiri di atas segalanya.
perlu diingat, kamu gabisa menilai seseorang dari satu perspektif. apalagi, hanya menilai dari hasil tulisan seseorang.
belajar lah menjadi bijak, meski hanya sebatas kata 'maaf'.
belajar lah menjadi pribadi yg memilah sesuatu untuk dijadikan perbincangan.
bukan serta merta merasa hebat ketika menjadi yg pertama menemukan 'bahan perbincangan'.
yg mengerti kamu adalah diri kamu sendiri, maka ketika terlihat salah, itu adalah sebab kamu sendiri yg ber-perspektif bahwa itu hal yg salah.
satu lagi. kepada kamu yg baca ini, kalau kamu adalah orang yg pandai dan bisa berbicara -tepatnya menyuarakan- di depan orang banyak, aku sangat bangga atas diri mu. sebab aku ingin menjadi orang seperti itu. tapi..
aku tak lain tak bukan, hanya lah orang yg bisa menyuarakan seperti ini hanya lewat tulisan. karna di sini lah media ku,
ketika kamu melihat hal seperti ini di sosial media ku, jangan serta merta marah lalu usik sana sini. bukankah sosial media diciptakan bebas untuk diapakan oleh pemiliknya? lalu kenapa mengusik hal yg sepenuhnya bukan hak mu?
lakukanlah hal lain yg menjadi pilihan mu atas sosial media yg kamu miliki. jangan terus-terusan peduli atas komentar orang, karna sekali pun kamu berhenti, akan tetap ada yg berkomentar. sebab begitulah manusia, dan begitu lah dunia.
orang baik sekali pun akan tetap ada yg tidak suka, jadiii? yuk lakukan apa yg ingin kamu lakukan, selagi itu bukan hal yg salah. hehe, spread loveđź–¤
ditulis berkenaan dengan wabah corona sekarang ini, -Kamis, 21 Mei 2020 pukul 8.14 pm.
penting diingat, tulisan ini bukan berarti aku benar dan yg lain salah. melainkan, aku hanya sebutir pasir diantara ribuan pasir lainnya. tertimbun di bawah. bukan klise, tapi benar begitulah adanya.
aku juga bukan orang yg berjuang di atas pandemik sekarang ini.
aku bukan orang yg bisa banyak membantu.
bukan orang yg memberikan manfaat, selain hanya bisa menyuarakan.
aku hanya anak kecil, yg kadang mengoceh dan kadang takbisa memberikan perubahan apa-apa.
bukan kadang, tapi memang tak memberikan perubahan apa-apa.
aku sadar betul dan kadang malu kala sedang bersuara.
iya bersuara, di sosial media yg ku miliki tepatnya.
bagaimana tidak, kadangkala aku sendiri bertanya pada masing-masing orang yg bernyawa. ketika kita melihat sesuatu yg salah di lingkungan sekitar kita, dan kita hanya diam saja melihat sesuatu yg salah itu, maka tak lantas kah kita bisa disebut sebagai pribadi yg acuh saja bahkan dengan keadaan sekitar kita?
jika jawabannya iya benar acuh, maka bukankah tak apa ketika diri ini memilih untuk membuang rasa acuh itu?
tak apa jawabnya. maka lewat tulisan ini, hanya lewat tulisan-tulisan ini saja lah rasanya aku berani untuk menyuarakan apa yg seharusnya disuarakan di diri ku ini. sekali lagi, jangan berprasangka buruk yaa. tulisan ini ku tulis semata-mata hanya melihat dengan keadaan yg ada. bukan di ada-ada, tapi benar adanya. ditulis juga, dengan harapan rasa sadar diri kita bisa terangkat.
seperti kalimat yg tak asing lagi ; kalau kita gabisa bermanfaat untuk orang lain, setidaknya jangan jadi beban..
yaa, beberapa hari, beberapa kali, dan atas beberapa kejadian. tak indahnya didapati rasa ketidakpedulian antar sesama. tentunya, pada pandemik kali ini.
saat kita berpikir terus-terusan tak juga berani menyuarakan sedikit isi hati kita, dan lebih memilih mengikuti alurnya saja, rasa-rasanya sikap empati kita pada negeri tercinta Indonesia ini tak begitu terpancar..
sikap peduli kita bahkan pada petugas medis yg rela hati berjuang di garis terdepan untuk menyelamatkan kita semua, rasanya juga terabaikan. sudah banyak pahlawan kita jatuh berguguran, dan kita jatuhkan lagi mereka dengan ego diri kita yg teramat besar.
hingga tak sadar, bahwa musuh terbesar untuk sembuhnya dunia ini adalah diri kita sendiri. tak sadar bahwa kita lah satu-satunya harapan yg bisa membangkitkan harapan orang-orang lain di sana,
ya, sebut saja aku terlalu berlebihan menanggapi ini semua. lalu, kalau ku sebut kamu sudah hilang perasaan untuk peduli perihal perjuangan yg tak juga disebut perjuangan, bukankah tak apa-apa juga?
banyak dari kita, tak terkecuali aku sendiri, menjadi korban atas ke-egoisan manusia-manusia yg tak juga melihat pahlawan terdepan kita sedang jatuh bangun berjuang melawan kematian.
terlebih, aku heran, kepada manusia-manusia yg menganggap ini hal sepele, bahkan tak jarang menjadikannya bahan candaan. damn, what happened with you guys?
okay, i know.. itu hak setiap manusia, untuk peduli atau tidak. kita gabisa memaksa semua orang untuk peduli akan keadaan bersama yg sedang diperjuangkan, yg bisa dilakukan saat ini adalah menyadarkan. meski taksemua yg menyadarkan direspon dengan baik. taksemua yg menyadarkan dianggap peduli yg baik, selain kepada yg hanya memberi kontribusi nyata lah yg dianggap membantu.
padahal jauh lebih dalam daripada itu, menyuarakan tidak kah lebih baik ketimbang diam saja dan meski taksemua diam berarti benar diam. juga, sebaliknya. tidak kah lebih baik diam saja ketimbang menyuarakan?
pilihan yg ada, banyak sekali. pun begitu, maksud setiap orang juga banyak maknanya. maka, ketika kita melihat orang yg menyuarakan atau bahkan melihat orang yg hanya diam saja. jangan sampai kita seenaknya beranggapan yg tidak-tidak. kita gapernah tau, bisa saja yg diam lebih banyak doanya untuk negeri ini. pun juga, bisa saja yg menyuarakan tak cukup hanya sebuah pencitraan. begitu sebaliknya.
gapernah ada yg benar-benar tau maksud hati seseorang. maka akan lebih baik ketika kita bisa berprasangka baik kepada orang, entah ia memberikan hal besar atau kecil. dan,
"kalau tidak bisa memberikan manfaat, setidaknya jangan jadi beban untuk orang lain."
menghargai masing-masing diri yg bernyawa jauh lebih penting, dibanding terus menjadikan ego diri sendiri di atas segalanya.
perlu diingat, kamu gabisa menilai seseorang dari satu perspektif. apalagi, hanya menilai dari hasil tulisan seseorang.
belajar lah menjadi bijak, meski hanya sebatas kata 'maaf'.
belajar lah menjadi pribadi yg memilah sesuatu untuk dijadikan perbincangan.
bukan serta merta merasa hebat ketika menjadi yg pertama menemukan 'bahan perbincangan'.
yg mengerti kamu adalah diri kamu sendiri, maka ketika terlihat salah, itu adalah sebab kamu sendiri yg ber-perspektif bahwa itu hal yg salah.
satu lagi. kepada kamu yg baca ini, kalau kamu adalah orang yg pandai dan bisa berbicara -tepatnya menyuarakan- di depan orang banyak, aku sangat bangga atas diri mu. sebab aku ingin menjadi orang seperti itu. tapi..
aku tak lain tak bukan, hanya lah orang yg bisa menyuarakan seperti ini hanya lewat tulisan. karna di sini lah media ku,
ketika kamu melihat hal seperti ini di sosial media ku, jangan serta merta marah lalu usik sana sini. bukankah sosial media diciptakan bebas untuk diapakan oleh pemiliknya? lalu kenapa mengusik hal yg sepenuhnya bukan hak mu?
lakukanlah hal lain yg menjadi pilihan mu atas sosial media yg kamu miliki. jangan terus-terusan peduli atas komentar orang, karna sekali pun kamu berhenti, akan tetap ada yg berkomentar. sebab begitulah manusia, dan begitu lah dunia.
orang baik sekali pun akan tetap ada yg tidak suka, jadiii? yuk lakukan apa yg ingin kamu lakukan, selagi itu bukan hal yg salah. hehe, spread loveđź–¤





Tidak ada komentar:
Posting Komentar